Image linked to donate page Image linked to Countering the Militarisation of Youth website (external link) Image linked to webshop

Benutzeranmeldung

Interface language

Diaspora link
Facebook link link
Twitter link
 

Menangani Stres dan Beratnya Mengambil Posisi

kembali ke daftar isi

Roerta Bacic dengan ucapan terima kasih kepada Clem McCartney

Orang protes banyak alasannya, tetapi seringkali kita protes karena dihadapkan dengan situasi dimana kita harus merespon dan mengambil posisi. Realitas yang kita hadapi, mendorong kita bertindak, bereaksi, menantang, atau merubah apa yang kita alami dan lihat. Kita lupa mem­pertimbangkan secara serius konsekuensi yang mungkin timbul dari pilihan apapun (yang kita ambil). Konsekuensi positif sering memberdayakan. Konsekuensi negatif bisa jadi melemahkan. Kita perlu merenungkan keduanya lebih lanjut untuk mempersiapkan langkah berikutnya, tetapi juga agar kita tidak kaget dan menderita bahkan lebih stres.

Konsekuensi Mengambil Posisi

Dalam mengambil posisi, kita mungkin menempatkan diri kita sendiri dalam situasi yang akan memaksa kita pada keterbatasan kita dan me­resiko­kan diri kita sendiri. Jika ini terjadi, pengalaman buruk hampir pasti tak ter­hindar­kan; ketakutan sangat mungkin membayang sebagai respon. Da­lam si­tuasi tidak aman dan sangat takut, perasan-perasaan tersebut akan ber­campur baur: ketakutan akan ditangkap, takut akan dituduh salah, takut akan disiksa, takut akan ditangkap dalam pertemuan illegal, takut akan di­khianati, takut akan gagal lagi, takut akan sesuatu yang tidak diketahui (apa yang akan terjadi jika saya ditahan?) dan apa yang diketahui, bisa ancaman tertentu me­lalui telpon atau sadar akan apa yang telah terjadi pada yang lain. Kita perlu tahu apa yang dapat kita lakukan untuk menghindari konsekuensi-kon­sekuensi ini atau untuk menanganinya jika terjadi. Tiga elemen utama dapat mem­bantu kita memfungsikan: kepercayaan dan solidaritas dengan sesama kawan kita yang melakukan protes, latihan yang baik, dan persiapan emosional dan debriefing (menanyakan pada orang lain yang telah melakukan aksi tentang apa yang sudah dilakukannya).

Beberapa Konsekuensi yang Kita Perlu Mempersiapkannya

1. Menangani Konsekuensi Ketakutan

Ketika kita memikirkan tentang konsekuensi traumatis, kita segera akan berfikir tentang konsekuensi fisik seperti didorong dengan kasar, ditahan, dipukuli, atau menerima pelanggaran hak asasi. Resiko ini lebih besar dalam masyarakat tertentu dibanding pada masyarakat lainnya; orang yang melakukan protes dalam negara yang militeristik dan otoriter benar-benar sangat berani. Tetapi kita semua akan merasa setidaknya khawatir dan takut, dan paling tidak, sadar akan resiko sakit atau ketidaknyamanan fisik. Ke­takut­an ini mungkin mengendorkan kita. Tetapi mengabaikannya juga tidak baik. Jika kita tidak siap, reaksi alamiah kita dalam situasi itu mungkin saja akan menghantar pada akibat lebih serius. Misalnya, kita mungkin terdorong untuk lari, tetapi jika kita lari, kita akan kehilangan disiplin; lawan kita bisa jadi ter­goda untuk menyerang pada saat itu juga. Maka, siap itu menjadi sangat penting secara rasional, emosional, dan secara praktis. Training dalam me­ngendalikan ketakutan itu sangat penting. (Lihat Latihan ‘Konsekuensi Ketakutan’)

2. Kekuatan Keluar di Hadapan Publik

Kita perlu sadar bahwa kita memilih untuk ambil posisi di luar opini konven­sional. Tidak sulit untuk berbagi perasaan secara pribadi dengan orang yang berbagi pandangan dengan kita, walaupun mungkin kita takut dikhianati. Keluar ke hadapan publik lebih sulit. Kita mengambil posisi tidak hanya berhadapan dengan negara tetapi juga dengan sikap sosial masyarakat umum. Alasan utama bahwa kita perlu protes adalah untuk menantang konvensi-konvensi itu, dan karena itu tidak mudah melakukannya. Kita mengekspos diri kita sendiri. Kita renungkan para perempuan berpakaian hitam di Israel yang dengan sederhana berdiri diam menyaksikan apa yang tidak dapat mereka terima dalam masyarakat mereka.
Sekarang, bentuk penyaksian seperti itu telah dilakukan di Serbia, Kolumbia, dan di tempat lain. Solidaritas terhadap kolega kita sangat penting dalam situasi seperti itu, seperti menciptakan ruang untuk bernafas dan menangani perasaan kita. Bahkan mereka yang tampil percaya diri mungkin punya kekhawatiran yang perlu mereka ketahui dan hadapi. (Latihan ‘Garis Konflik’, sangat membantu untuk dilakukan)

3.Mempersiapkan Diri untuk Mengatasi Kesulitan

Resiko dan konsekuensi lainnya mungkin lebih samar, tetapi karena alas­an ini justru jadi lebih menyulitkan. Kita mungkin menghadapi dilecehkan dan dinistakan, atau dihina dan diprovokasi oleh penonton atau aparat negara. Lagi, Perempuan Berpakaian Hitam muncul dalam pikiran; mereka dimusuhi oleh publik, tetapi tetap diam dan tidak bereaksi. Ini secara emosional dapat me­nyulitkan. Me-role-play-kan (lihat Latihan,) situasi lebih lanjut mem­bantu kita mempersiapkan secara emosional dan memahami sepenuhnya motivasi (dan ketakutan) lawan-lawan kita.

Solidaritas dan kepercayaan diri dari kawan kita para pemprotes lagi-lagi penting dan sebagiannya terbentuk oleh rentetan latihan seperti itu. Kesulitan yang secara emostional kurang, karena kurang spontan, merupakan publisitas yang jelek. Press, yang mungkin merugikan kita dengan segala macam ketidakakuratan mereka, mungkin menantang kekuatan kepercayaan dan motifasi kita. Mempersiapkan diri kita menghadapi humiliasi (pencemaran nama baik) seperti itu menjadikan lebih mudah mengatasinya ketika hal itu terjadi.

4.Menempatkan Diri Anda pada Posisi Orang Lain

Kita bahkan mungkin mencari humiliasi sebagai bagian statement yang kita coba buat, sebagaimana ketika para pelaku protes mencoba untuk me­nempatkan diri mereka dalam situasi orang yang sedang mereka per­tahan­kan. Banyak kelompok telah melakukan teater jalanan memainkan bagian-bagian para tahanan dan penjaga penjara di Guantanamo Bay; perasaan yang tak terantisipasi muncul ke permukaan dimana para peserta protes kadang-kadang sulit mengontrolnya.

Misalnya, ‘para tahanan’ mungkin mulai merasa mendapat kekerasan se­mentara ‘para penjaga’ mendapati diri mereka memasuki pengalaman ini dengan penuh antusias atau perasaan revulsif. Bagaimanapun, para peserta mungkin merasa terkotori atau tercemari. Untuk menangani kemungkinan seperti itu mereka perlu disiapkan untuk menghadapi reaksi seperti itu dalam diri mereka sendiri dan ditanyai secara sensitif setelahnya. Contoh lainnya ialah protes terhadap perusahaan pertanian ketika para sukarelawan meng­gunakan badan mereka jadi model seonggok daging. Reaksinya mungkin sangat merasa antusias dan terbebaskan dengan mengambil posisi atau justru kesulitan pada saat mereka harus menempatkan diri.

5. Menghadapi Kekecewaan (disillusionment)

Kadang-kadang kita punya sedikit masalah sebelum dan selama protes, tetapi ledakan sesungguhnya datang kemudian jika kita kelihatan tidak terpengaruh. Protes besar melawan perang di Irak pada tanggal 15 Februari 2003 tidak menghentikan perang. Ketakutan terburuk kita jadi kenyataan. Tidak mengherankan, banyak orang menjadi kecewa dan kendor. Secara alamiah mereka bertanya, ‘Apa yang perlu dilakukan’? Mereka mungkin tidak ingin ikut serta lagi dalam aksi-aksi mengenai hal serupa atau yang lain di waktu mendatang, karena merasa itu sia-sia. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekecewaan ini? Kita perlu kesempatan untuk melakukan refleksi bersama tentang apa yang telah terjadi dan apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman itu (Lihat ‘Evaluasi Aksi’, h. 100). Kita perlu menyesuaikan harapan-harapan kita. Protes itu penting untuk menunjukkan kekuatan kita, tetapi protes saja tidak akan menghentikan perang.

6. Menghadapi Kesuksesan

Seperti halnya khawatir bahwa situasi mungkin berubah menjadi lebih buruk dari yang diperkirakan, mungkin kita secara paradoks mempunyai kesulitan menangani apa yang di permukaan kelihatannya positip atau sukses. Contohnya adalah jika petugas keamanan bertindak lebih manusiawi dari yang diperkirakan atau pihak berwenang menarik kita dan kelihatan ingin mem­pertimbangkan tuntutan kita. Keluaran seperti itu dapat berefek meng­kha­watir­kan jika kita telah mengeraskan diri untuk konfrontasi. Apa yang terjadi de­ngan seluruh adrenaline yang telah terbangun dalam diri kita? Apa yang perkembangan-perkembangan ini lakukan pada analisa kita? Apakah kita salah dalam analisa kita? Apakah kita harus lebih percaya pada sistem? Atau apakah kita tertipu oleh kata-kata manis? Gerakan kita mungkin bisa mencapai solidaritas lebih ketika kita dihadapkan pada penolakan keras dan mungkin keterpecah-belahan ketika itu tidak terwujud. Oleh karena itu, kita perlu siap untuk mengetahui respon-respon apa yang mungkin paling efektif dan uji coba apa yang mungkin. Kemudian, ketika dan jika itu terjadi, kita lebih mampu memutuskan secara kolektif situasinya dan bertindak secara tepat.

7. Ketika Tingkat Serangan Naik

Banyak dari kita kaget pada serangan yang muncul selama protes non-kekerasan dan tidak hanya dari mereka yang menentang protes. Kita mung­kin mendapati gelombang serangan muncul dalam diri kita ketika diperlakukan kasar oleh pihak berwenang. Bahkan jika kita tidak bereaksi, perasaan seperti itu dapat membuat kita tidak nyaman dan gamang. Atau peserta protes lainnya mulai melakukan kerusuhan, dan kita harus mampu menemukan respon yang tepat.

Apakah kita ikut, meninggalkan atau mengukuhkan fondasi kita dengan melajutkan protes secara non-kekerasan sebagaimana direncanakan? Situasi seperti itu hanya menyisakan waktu sedikit untuk berfikir, sehingga kemungkinan-kemungkinannya perlu dipertimbangkan lebih lanjut. Kita perlu memiliki sejumlah alternatif yang jelas, sehingga keputusan yang tenang dapat diambil. (Lihat Latihan ‘Pengambilan Keputusan’ dan “Bermain Peran’)

Konteks yang Berbeda

Di daerah Utara, kita mungkin protes pada negara yang mengkalim liberal dan demokratis. Atau kita mungkin dalam negara otoriter. Tetapi kita tidak boleh berasumsi bahwa protes di negara-negara demokrasi liberal itu lebih mudah, karena beberapa negara seperti itu dapat juga sangat keras dalam menangani protes.

Faktor-faktor lain mungkin menentukan potensi protes dan batas-batas­nya. Masyarakatnya mungkin tertutup atau terbuka. Dalam masyarakat ter­tutup resikonya lebih besar karena orang-orang yang tidak setuju dapat hilang, dan hanya ada kemungkinan kecil akuntabilitasnya. Mungkin masyarkat itu punya sistem judisial yang berfungsi, pemerintah yang independen sehingga dapat berfungsi sebagai cek terhadap pelanggaran HAM. Kultur masyarakat juga merupakan faktor penting karena ia mungkin menghargai konformitas dan respek terhadap pemerintah. Atau suatu masyarakat mungkin merasa lemah dan rentan terhadap tekanan modernitas atau pengaruh negara lain; dalam situasi seperti itu, protes dalam bentuk apapun mungkin dipandang sebagai ketidaktaatan dan destruktif.
Karena protes itu lebih sulit dalam beberapa situasi dibandingkan dengan situasi lainnya, semua masalah yang didiskusikan di sini mungkin muncul dalam konteks apa saja, meskipun dengan intensitas yang berbeda.

Untuk lebih jauh mengenai konteks, lihat juga ’Menyampaikan Pesan Protes.

Kesimpulan

Jika kita siap terhadap bercampurnya emosi dan reaksi yang mungkin timbul (dalam diri kita) akibat protes kita, bangunlah solidaritas dengan kolega, analisalah dan tanyakan pada diri kita sendiri mengenai konsekuensi aksi kita, maka kita akan lebih tenang untuk melanjutkan perjuangan demi masyarakat yang lebih baik, meskipun mungkin kita tahu bahwa itu tidak akan tercapai selama umur hidup kita.

Meskipun demikian, jika kita tidak mempersiakan dan menghadapi konsekuensi-konsekuensi itu dengan baik, kita mungkin tamat tanpa menolong siapapun, bahkan diri kita sendiri. Kita mungkin patah semangat dan memutuskan untuk menyerah atau mengambil strategi lain yang mungkin kontra produktif, misalnya politik mainstream dan penggunaan kekuatan. Atau mungkin kita jatuh dalam bentuk protes demi protes itu sendiri, tanpa ada sense strategisnya. Karena itu, kita mungkin kelihatannya masih terlibat dalam perjuangan dan orang lain mungkin mengagumi persistensi kita, tetapi kita telah kehilangan tujuan untuk mana seluruh energi kita gunakan.

Ketidakefektifan dan banyaknya tujuan kita mungkin mengendorkan yang lain untuk terlibat. Jika sebagaimana saya percaya kita memiliki tugas untuk protes, kita juga punya kewajiban untuk mempersiapkan diri kita dengan baik: mengidentifikasi resiko-resiko terhadap fisik dan emosi kita dan mengambil langkah-langkah untuk meyakinkan bahwa kita dapat memecahkan resiko-resiko ini dan melanjutkan perjuangan dengan cara yang positif dan efektif, dengan menjaga kebenaran ideal kita. Terakhir, mari kita terus mencoba , dengan rasa senang sambil kita melakukan itu, dan dengan itu, berikan perdamaian satu kesempatan. Kita bukan orang pertama dan bukan pula yang terakhir melakukannya.